Nama Prambanan di Jawa Tengah terkenal oleh karena ditemukannya
beberapa bangunan Candi, yang merupakan warisan masa masa kejayaan Tanah air
pada waktu silam.
Babad ini mengisahkan tentang pelbagai peristiwa yang
terjadi disekitar Prambanan pada masa lampau, menurut pènuturan orang orang tua
setempat. konon Kota Prambanan dibangun pertama kali oleh para raksasa pasukan Prabu Karungkala, yang letaknya disebelah Selatan Gunung Merapi, di sebelah Timur
Gunung Merapi terdapat pula kerajaan lain, bernama Pengging. Jaraknya waktu itu
lima hari perjalanan dari Prambanan. Raja Karungkala ingin mempersunting putri
Raja di Pengging tetapi tidak diterima, maka terjadilah perang antara Prambanan
dengan Pengging.
Dalam Babad Prambanan ini dikisahkan pula lahirnya Raden Baka,
yang hingga kini tidak dapat dipisahkan dengan cerita terjadinya Candi
Prambanan dan Candi Borobudur sesuai
dengan jalan pikiran nenek moyang di masa lalu.
Cerita Babad Prambanan ini mulai disalin pada jam tujuh malam,
hari Kamis Kliwon tanggal 29 Ruwah, wuku Madhangkungan, tahun Wawu 1877 (resi
misik slireng siwi) atau tanggal 4 Maret 1927 Masehi.
Pada awalnya diceritakan Prabu Jayabaya beserta
keturunannya yang berpindah dari Daha ke Pengging. Prabu Jayabaya berputra
Jayamijaya, Jayamijaya berputra Jayasusena, Jayasusena berputra Kusumawicitra.
Sejak Prabu Kusumawicitra inilah kerajaan berpindah dari Daha ke Pengging.
Prabu Kusumawicitra berputra Sri Citrasoma, Citrasoma berputra Pancadriya.
Kemudian Pancadriya mempunyai putra empat orang yang bernama Dewamadya, Anglingdriya, Raden
Dipanata, dan Raden Darmanata.
Sepeninggal Prabu Pancadriya, kekuasaan Pengging dipegang
oleh Anglingdriya. Ia beristri dua orang, yaitu Dewi Sumemi dan Dewi Sinta.
Untuk kelengkapan kerajaan diangkatlah Tambakbaya sebagai patihnya. Adik Anglingdriya,
Dipanata, diangkat sebagai raja di negeri Salembi. Anglingdriya dinobatkan
sebagai raja tahun 764 (Dadi obah wicareku).
Perkawinan Anglingdriya dengan isteri pertama menurunkan seorang
anak putri yang berwajah cantik. Kecantikan putri ini sempat menarik perhatian
lelaki sehingga banyak yang datang untuk melamarnya. Tetapi semua lamaran itu
belum ada satupun yang diterima oleh sang putri. Ia mohon kepada ayahnya agar
diundangkan sayembara, siapa saja yang dapat menebak sayembaranya akan diterima
sebagai suami oleh sang putri. Sayembara itu terdiri dari tiga buah teka-teki
(cangkriman) yaitu
pertama, manakah ujung pangkal sebuah tongkat yang
terbuat dari teras pohon asam;
kedua, manakah burung emprit jantan dan betina di antara
dua ekor burung emprit yang tampaknya sama;
ketiga, sumur bertimba batu dan timba emas yang bertali angin.
Sayembara sang putri telah diundangkan ke seluruh negeri.
Dua bulan kemudian mulailah datang orang-orang yang berminat akan menebak
sayembara sang putri. Namun ternyata dari sekian banyak peminat itu belum ada
satu pun yang berhasil menebak sayembara tersebut. Prabu Anglingdriya tetap
berpesan kepada para peminat sayembara yang gagal tadi agar bertanya kepada para
pertapa di gunung-gunung tentang bagaimana tebakan yang betul terhadap
sayembara sang putri tadi. Ia dan putrinya berjanji akan menepati janji mengawinkan
penebak sayembara yang betul dengan putrinya.
Untuk PDF nya bisa dibaca DISINI